Translate

Sabtu, 19 Oktober 2013

PRAKTEK REIKI.


Setiap orang yang ingin menjadi praktisi reiki lebih dulu harus mendapatkan  attunement reiki dari seorang Reiki Master. Proses attunement reiki secara mudah diartikan sebagai proses sinkronisasi antara calon praktisi reiki ( tingkat pemula ) dengan sumber reiki yang ada di alam semesta. Yang disinkronkan  adalah vibrasi energi halus dalam diri calon praktisi reiki dengan getaran energi reiki sehingga hanya dengan niat saja, maka calon praktisi reiki dapat mengaksesnya saat itu juga.
Setelah resmi menjadi praktisi reiki tentu saja diperlukan latihan reiki untuk membuat tubuh semakin bersih, chakra utama semakin mengembang dan getaran energi reiki yang diakses semakin kuat daya kerjanya. Efek dari semakin bersihnya jalur energi dalam tubuh praktisi reiki, maka kesehatan fisik akan dengan mudah dipertahankan untuk melawan jenis penyakit yang akan masuk tubuh. Praktek reiki yang dipersyaratkan oleh praktisi reiki adalah mau menjalankan apa itu yang disebut dengan Self Healing ( SH ) dan Other Healing ( OH ).
PRAKTEK REIKI KE DIRI SENDIRI ( SELF HEALING REIKI ).
Ada tradisi reiki yang mensyaratkan praktek self healing ( SH ) selama 21 hari tanpa putus berkesinambungan setiap hari. Minimal sehari sekali praktisi reiki mempraktekkan reiki dengan cara menempelkan kedua telapak tangannya ke tubuh sendiri. Namun ada juga yang tidak mensyaratkan praktek reiki selama 21 hari terus menerus, akan tetapi dengan menggantikannya sesering mungkin menyalurkan reiki ke diri sendiri baru ke orang lain sebagai ajang praktek reiki.
Penyaluran reiki diri sendiri untuk mengatasi gangguan migren, vertigo dan ketidaknyaman pada organ kepala. Biasanya penyaluran reiki ke bagian kepala akan membuat rasa kantuk yang berlebihan saat energi reiki mengalir ke bagian dalam kepala. Keringat terkadang bercucuran deras membasahi wajah dan leher.
Penyaluran reiki diri sendiri untuk mengatasi gangguan migren, vertigo dan ketidaknyaman pada organ kepala. Biasanya penyaluran reiki ke bagian kepala akan membuat rasa kantuk yang berlebihan saat energi reiki mengalir ke bagian dalam kepala. Keringat terkadang bercucuran deras membasahi wajah dan leher.
Dengan rajin melakukan terapi reiki diri sendiri, untuk mendapatkan manfaat reiki yaitu tubuh selalu sehat dan bugar.
Dengan rajin melakukan terapi reiki diri sendiri, untuk mendapatkan manfaat reiki yaitu tubuh selalu sehat dan bugar.
Mulailah menyehatkan diri sendiri lebih dulu dengan praktek self healing reiki. Niatkan reiki terakses diikuti affirmasi untuk apa reiki disalurkan. Mulai tempelkan kedua telapak tangan Anda pada tubuh, mulai dari atas turun ke bawah.
Mulailah menyehatkan diri sendiri lebih dulu dengan praktek self healing reiki. Niatkan reiki terakses diikuti affirmasi untuk apa reiki disalurkan. Mulai tempelkan kedua telapak tangan Anda pada tubuh, mulai dari atas turun ke bawah.
Manfaat dari praktek reiki adalah kita mengakses energi positif reiki yang selalu mengalir ke dalam tubuh sehingga tubuh mampu memproteksi dirinya dari serangan energi negative penyakit. Setelah tubuh sehat tak ada salahnya praktisi reiki juga mau berbagi menyalurkan reiki kepada orang lain, baik jarak dekat ( tatap muka ) atau jarak jauh dengan perantara, internet, blog, facebook, twitter atau situs jejaring sosial lainnya. Dalam praktek reiki secara kontinyu, sudah banyak jenis penyakit dalam diri yang berhasil disembuhkan baik dibantu teman praktisi reiki atau diri sendiri.
Tahapan penempelan kedua telapak tangan diawali dari tubuh bagian atas lalu perlahan-lahan turun ke bawah hingga tubuh bagian bawah ( depan ). Kedua telapak tangan lalu diangkat ke atas ditempelkan pada tubuh bagian belakang, dimulai dari batok kepala turun perlahan-lahan hingga sampai ke pantat. Tiap titip lokasi pada tubuh minimal disalurkan reiki selama 3 menit. Keseluruhan titip penyaluran reiki pada tubuh ada yang 16/17 atau 18 titik dengan total 54 menit atau 1 jam kurang.
PRAKTEK  REIKI KE ORANG LAIN ( OTHERS HEALING ).
Anda dapat mencoba memberikan terapi reiki kepada keluarga terdekat/teman sekerja atau tetangga. Sama dengan praktek self healing reiki, pada prinsipnya menyalurkan reiki ke orang lain cukup mudah dilakukan. Kondisikan pasien duduk di depan Anda dalam kondisi santai, mata terpejam dan niatkan reiki mengalir dalam diri Anda.
Begitu chakra mahkota Anda mengembang ( ubun-ubun ) yang ditandai dengan adanya getaran halus dan kedua telapak tangan juga bergetar ditandai dengan sensasi hawa panas, itu tandanya energi reiki sudah mulai masuk tubuh lewat gerbang energi  pada chakra mahkota. Energi yang telah masuk tubuh selanjutnya akan bersirkulasi dalam tubuh energi dan akhirnya keluar lewat chakra kedua telapak tangan Anda.  Lalu arahkan kedua telapak tangan Anda ke pasien dengan jarak 3 – 5 cm tanpa menyentuh tubuh. Jika yang menjadi pasien adalah muhrim Anda, boleh menempelkan kedua telapak tangan pada bagian tubuh yang sakit.
Prinsip penyaluran reiki ke orang lain juga menganut prinsip atas ke bawah. Dimulai dari bagian kepala lalu turun ke bagian tubuh lain. Wajah Anda berjerawat, cobalah menyalurkan reiki ke bagian wajah dimulai dari kening, mata, pipi dan kuping. Diharapkan dengan penyaluran reiki, wajah akan berseri kembali, pipi mulus halus bebas jerawat.
Prinsip penyaluran reiki ke orang lain juga menganut prinsip atas ke bawah. Dimulai dari bagian kepala lalu turun ke bagian tubuh lain. Wajah Anda berjerawat, cobalah menyalurkan reiki ke bagian wajah dimulai dari kening, mata, pipi dan kuping. Diharapkan dengan penyaluran reiki, wajah akan berseri kembali, pipi mulus halus bebas jerawat.
Penyaluran reiki ke orang lain dimulai dari bagian kepala. Mulailah menyalurkan reiki ke organ mata untuk beberapa saat, lalu tangan bergerak ke bagian kepala lainnya, seperti ke kening, kuping, pipi tulang tengkorak agar reiki menyusup ke bagian organ otak.
Penyaluran reiki ke orang lain dimulai dari bagian kepala. Mulailah menyalurkan reiki ke organ mata untuk beberapa saat, lalu tangan bergerak ke bagian kepala lainnya, seperti ke kening, kuping, pipi tulang tengkorak agar reiki menyusup ke bagian organ otak.
Berlatih menyalurkan reiki kepada pasien untuk melatih kepekaan telapak tangan akan aliran reiki.
Berlatih menyalurkan reiki kepada pasien untuk melatih kepekaan telapak tangan akan aliran reiki.
Di saat energi reiki mengalir ke pasien, reiki ikut pula membersihkan tubuh praktisinya dari energi penyakit. Energi negatif penyakit dalam diri pasien dan praktisi dibuang keluar tubuh lewat chakra kedua telapak kakinya secara bersamaan. Karena itu rajin-rajinlah menyalurkan reiki agar tubuh Anda sehat.
Di saat energi reiki mengalir ke pasien, reiki ikut pula membersihkan tubuh praktisinya dari energi penyakit. Energi negatif penyakit dalam diri pasien dan praktisi dibuang keluar tubuh lewat chakra kedua telapak kakinya secara bersamaan. Karena itu rajin-rajinlah menyalurkan reiki agar tubuh Anda sehat.
Begitu reiki diniatkan bekerja diiringi affirmasi praktisi reiki, saat itu juga reiki mengalir dalam dirinya. Bersamaan itu juga reiki bisa disalurkan kepada orang lain yang sedang sakit agar mendapatkan kesembuhan, kembali sehat terbebas dari penyakit.
Begitu reiki diniatkan bekerja diiringi affirmasi praktisi reiki, saat itu juga reiki mengalir dalam dirinya. Bersamaan itu juga reiki bisa disalurkan kepada orang lain yang sedang sakit agar mendapatkan kesembuhan, kembali sehat terbebas dari penyakit.
Penyaluran reiki langsung ke bagian yang sakit, misalnya pinggang dengan tidak menempelkan telapak tangan ke tubuh pasien. Gabungan energi reiki dan kundalini untuk kasus syaraf terjepit atau cedera otot punggung.
Penyaluran reiki langsung ke bagian yang sakit, misalnya pinggang dengan tidak menempelkan telapak tangan ke tubuh pasien. Gabungan energi reiki dan kundalini untuk kasus syaraf terjepit atau cedera otot punggung.
Biarkan kedua telapak tangan Anda mengarah ke bagian tubuh yang sakit untuk beberapa saat. Setelah itu pindahkan kedua telapak tangan ke bagian tubuh lainnya. Demikian seterusnya sampai dirasa cukup untuk memberikan healing ke pasien.
Manfaat dari praktek other healing reiki adalah, energi reiki yang Anda akses disamping membersihkan tubuh pasien dari energi negative penyakit, juga dalam waktu bersamaan juga membersihkan tubuh energi Anda sendiri. Energi negatife penyakit pasien kita dorong dari tubuhnya lalu keluar melewati chakra kedua telapak kaki pasien. Jadi disamping pasien diterapi dengan reiki dalam waktu bersamaan energi reiki juga ikut membersihkan tubuh Anda dari penyakit.
Manfaatnya jika kita rajin menerapi pasien dengan reiki, tubuh anda pun juga ikut dibersihkan dari unsur negatife penyakit. Semakin sering reiki dipraktekkan, semakin bersih tubuh energi Anda, chakra utama semakin mengembang, getaran energi reiki semakin tinggi dan kuat untuk melawan energi negatife penyakit yang mencoba masuk tubuh. Tentu saja sehatnya tubuh karena mampu melawan penyakit disamping praktek reiki, gaya hidup sehat pun tetap kita praktekkan dengan cara mengatur pola makan sehat, istirahat cukup, rajin olahraga dan pola pikir sehat.
Selain menyalurkan reiki dan kundalini, praktisi reiki juga dilatih meditasi.
Selain menyalurkan reiki dan kundalini, praktisi reiki juga dilatih meditasi.
Praktek tambahan sebagai praktisi reiki selain self healing, other healing juga diperkenalkan dengan praktek meditasi. Salah satu meditasi dalam menunjung praktek reiki, adalah meditasi reiki kundalini. Praktisi reiki saat duduk bermeditasi, cukup meniatkan meditasi reiki kundalini, maka tubuh akan bergetar yang ditandai dengan mengalirnya hawa panas dalam tubuh yang diselang-seling dengan hawan hangat bahkan hawa dingin.
Getaran energi yang bergerak dari atas bersumber dari reiki karena masuk lewat chakra mahkota. Sedangkan yang bergerak di tengah antara chakra dasar dan seks adalah getaran energi kundalini yang mulai aktif membuka gulungannya. Energi kundalini selanjutnya keluar dan merambat naik lewat jalur energi besar ( sushumna ) melewati chakra dasar, seks, solar pleksus, jantung, tenggorakan, ajna (mata ketiga ) dan keluar lewat chakra mahkota.
Saat mulai meditasi anda bisa memberikan affirmasi, meditasi reiki saja atau meditasi reiki dan kundalini. Rasakan sensasi getaran energi bersumber dari reiki saja dan gabungan energi reiki dan kundalini. Jika anda peka, akan bisa membedakan vibrasi getaran kedua energi tadi. Dengan semakin sering mempraktekkan meditasi reiki kundalini, diharapkan saat praktek reiki gabungan kedua energi tadi akan bekerja untuk penyembuhan kasus penyakit dalam diri atau pasien. Selamat praktek reiki kundalini dan meditasi.

Jumat, 20 September 2013

Monyet dan Apel Kayunya


Suatu ketika ada seekor monyet periang yang hidup di hutan, memakan buah yang lezat ketika lapar, dan istirahat ketika letih. Suatu hari dia sampai ke sebuah rumah, di sana dia melihat satu mangkuk apel yang paling indah. Dia mengambil satu apel di masing-masing tangannya dan kembali lari masuk hutan.
Dia menciumi apel itu tapi tidak mencium bau apapun. Dia mencoba memakannya tapi malah membuat giginya ngilu. Apel itu ternyata terbuat dari kayu, tapi nampak demikian indah, dan ketika monyet-monyet lain ingin melihatnya, dia malah memegangnya dengan semakin erat.
Dia begitu mengagumi apa yang baru dimilikinya dan dengan bangga membawa-bawanya sambil berkelana dalam hutan. Apel itu nampak berkilau kemerahan di bawah sinar matahari, dan nampak sempurna baginya. Dia menjadi begitu tergantung padanya, sampaisampai pada awalnya bahkan dia tidak sadar kalau dia sedang lapar.
Sebatang pohon buah mengingatkannya, tetapi dia merasakan sentuhan halus apel di tangannya, dia tidak mau melepaskan pegangan pada apel kayu itu agar dia dapat meraih buah untuk di makannya. Pendeknya, dia tidak bisa rileks, karena harus terus melindungi apel kayunya itu. Seekor monyet yang penuh kebanggaan tapi tidak bahagia itu terus berkelana di dalam hutan.
Apel-apel kayu itu terasa semakin berat, dan monyet kecil yang malang itu mulai berpikir untuk meninggalkannya. Dia merasa lelah, lapar, dan tidak bisa memanjat pohon atau memetik buah dengan tangannya yang tidak bebas. Bagaimana kalau dia melepaskannya saja?
Melepaskan diri dari hal yang demikian berharga nampaknya tidak mungkin, tapi apa lagi yang dapat dilakukannya? Dia sudah demikian letih dan lapar. Melihat pohon buah-buahan berikutnya, dan mencium nikmatnya bau buah itu, ah cukup…. Dia menjatuhkan apel kayunya dan meraih makanannya. Dan dia menjadi bahagia lagi.
.
Melepaskan apel kayu
Sama seperti monyet kecil itu, kadang-kadang kita membawa-bawa hal yang nampaknya demikian berharga untuk kita tinggalkan. Seorang pria membawa-bawa gambaran tentang dirinya sebagai “orang yang produktif” dan membawa-bawanya seperti apel kayu yang berkilat itu. Namun pada kenyataannya, kesibukannya itu membuatnya letih, dan haus akan kehidupan yang lebih baik. Tetapi tetap saja, melepaskannya sungguh sebuah tindakan yang menyesakkan. Bahkan kekhawatirannya juga diperlakukannya seperti apel yang keramat, untuk memberi bukti bahwa dia “melakukan apa saja yang bisa.” Dia terus mempertahankannya dengan paksa.
Ini adalah hal berat untuk disaksikan, kita dengan demikian kuat mengidentifikasi diri dengan milik kita, bahkan merasa demikian sedih ketika mobil kita penyok. Betapa lebih kuatnya kita mengidentifikasi diri kita dengan keyakinan dan gagasan pribadi kita? Walau mereka tidak selalu mengisi jiwa kita, bukankah demikian? Dan kita jadi letih karena terus mempertahankannya.
Cara bagaimana lagi kita bisa mengakhiri kisah ini? Mungkin monyet itu ditemukan telah mati kelaparan, di bawah sebatang pohon yang indah, dengan buah ranum dalam jangkauan, sambil tetap memegang erat apel kayunya.
Tetapi saya memilih mengakhiri kisah ini dengan kepasrahan monyet itu, yang mau melepaskan apel kayu dari genggamannya, karena hanya dengan tangan terbuka kita bisa menerima.

Sabtu, 01 Juni 2013

CLOSED LEARNING... DI KERETA GAJAHWONG



Entah telah berapa belas tahun saya tak naik kereta api kelas ekonomi. Mungkin terakhir pada tahun 1992, berarti sudah 21 tahun. Ya, sudah 21 tahun duduk di kereta beradab : Duduk dalam keheningan yang nyaman, tak berbicara dengan bangku sebelah dan hanya bisa menatap punggung penumpang di kursi depan. Sungguh, peradaban masa kini adalah sebuah peradaban yang autistik. Dan sayapun menikmati autisme itu, tentunya atas nama privacy...

Tapi kereta ekonomi ini tiba-tiba menarik. Kulit luarnya lumayan mulus, perpaduan antara warna putih dengan biru muda. Namanya Gajahwong, merayap dari Jogja ke Jakarta. Saya sempat mengintip ke dalam sebelum memutuskan membeli tiket. Gerbongnya bersih ber-AC. Kursinya sofa abu-abu muda yang lumayan empuk, namun sandarannya terlalu tegak. Yang membedakannya dengan kereta api kelas bisnis dan eksekutif, adalah peradabannya : penumpang duduk berhadap-hadapan. Ya...ya... PT Kereta Api telah mendefinisikan level peradaban kelas Paria : Berhadap-hadapan !!!

Ah... isi saku ini akhirnya ikut membulatkan tekad untuk membeli tiket kelas ekonomi. Saya duduk di samping jendela, berhadapan dengan seorang ibu dan anaknya. Sedangkan di sebelah saya duduk seorang anak lelaki balita. Kereta berangkat tepat waktu, dan berbeda dengan kereta ekonomi jaman silam ternyata para penumpangnya lebih santun dan “beradab” : duduk rapi di kursi masing-masing, mulai memesan makanan dan mengkhusyuki gadget masing-masing.

Tapi itu ternyata tak lama. Kereta satu jam beranjak dari Stasiun Tugu dan suasana mulai riuh-rendah. Seorang ibu mulai menggendong anaknya yang rewel bolak-balik di gerbong. Di sana-sini percakapan telah dimulai diselingi derai tawa. Penumpang kursi seberang mulai menggelar koran di koridor gerbong, menidurkan anaknya berbekal bantal yang disewa. Puncaknya, beberapa penumpang lain mulai melangkahi badan, bahkan kepala, penumpang yang tergeletak pasrah di koridor gerbong kereta. Tak ada marah, karena mereka tertidur di “wilayah publik” tempat lalu-lalang.

Ya Rabbii... saya menemukan kembali peradaban itu. Betul : peradaban manusia seutuhnya !!! Peradaban di mana kami bercakap-cakap dengan manusia lain. Peradaban di mana kami saling bercerita dan tergelak. Peradaban dimana saya terhubungkan dengan kursi sebelah, karena ingin meminjam koran. Peradaban di mana kami tak perlu lagi membunuh waktu dengan menyumbat lubang telinga pakai earphone. Peradaban yang membuat kami saling memaklumi dan memaafkan. Seakan di Indonesia rasanya.

Biang keladinya adalah ini : Saling berhadap-hadapan, face to face !!! Ada mata yang terpaksa saling menatap, ada hati yang tersambung, ada fenomena yang tersaksikan secara lebih gamblang, ada frekuensi sosial yang bertaut. Ah... sang ibu seberang tanpa sungkan tiba-tiba menceritakan masalah anak lelakinya, ketika ia tahu saya adalah seorang psikolog. Entah kenapa, privacy saya tak merasa terganggu dengan curhat ini, karena privacy telah mengalah ketika duduk telah saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

Inilah sebuah peradaban luhur yang justru dengan sengaja dibunuh di kelas bisnis dan eksekutif. Peradaban yang dimatikan oleh gadget dan game online. Peradaban yang ditindas oleh distance learning, atasnama teknologi dan pembelajaran antar benua yang mengatasi ruang dan waktu. Kita adalah generasi autis yang hilang kepercayaan diri sosial, sehingga lebih nyaman untuk menatap layar tablet daripada menatap mata sejawat yang satu lift dengan kita. Kita merasa butuh kesendirian demi alasan privacy, padahal alasan sebenarnya adalah karena kita kehilangan sosiabilitas.

Ah... di Kereta Api Gajahwong tiba-tiba saya kehilangan selera dengan yang namanya distance learning. Tidak ! Belajar itu harus berhadap-hadapan, menatap mata dan merasakan aura antara guru dan murid. Distance learning mungkin cukup sahih untuk sekadar mentransfer pengatahuan, knowledge. Tapi distance learning bukan sebuah perangkat untuk menciptakan kompetensi, membentuk karakter, menghasilkan ilmuwan dan teknolog.

Tidak ! para murid harus kembali merebut haknya untuk bertemu dan mencium tangan guru-gurunya dengan takzim. Para murid harus bercengkrama dengan guru dan teman-temannya di sebuah ruang di mana mereka berkumpul secara fisik. Agar mereka belajar dengan guru mereka, agar mereka belajar dengan sesama teman mereka. Agar transfer ilmu itu terjadi lewat tatapan mata, lewat senyum tulus dan lewat tangan yang saling berpegangan. Dan itu semua terjadi saat jarak diantara mereka tak lebih dari sepuluh meter, sebuah closed learning...

Copas dari: https://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/472932822788318/

Rabu, 22 Mei 2013

Kemarahan.



Suatu hari Sang Buddha sedang berjalan melalui sebuah desa. Seorang pria muda yang sangat marah dan kasar datang dan mulai menghina dia. "Anda tidak memiliki pengajaran yang benar kepada orang lain," teriaknya. "Anda bodoh seperti orang lain. Anda palsu!"

Sang Buddha tidak marah terhadap penghinaan tersebut. Sebaliknya ia bertanya kepada pemuda tersebut "Katakan, jika Anda membeli hadiah untuk seseorang, dan orang itu tidak mengambil atau menerimanya, siapakah yang memiliki hadiah itu ?"

Pemuda itu terkejut dengan pertanyaan aneh dari sang Budha dan menjawab, "hadiah Ini akan tetap menjadi milik saya, karena saya membelinya."

Sang Buddha tersenyum dan berkata, "Itu benar. Dan itu persis sama dengan kemarahan Anda. Jika Anda menjadi marah kepada saya dan saya tidak merasa terhina dan tidak terpancing untuk marah, maka kemarahan itu jatuh kembali kepada Anda.

Dan kemudian Anda satu-satunya yang menjadi tidak bahagia, bukan Saya!. Semua yang Anda lakukan hanyalah menyakiti diri anda sendiri.

~ Sang Budha ~

Sabtu, 18 Mei 2013

Terimakasih Tuhan...

Setiap pagi aku bangun dan mengucap sepotong doa - Terimakasih ya Tuhan, atas hari yang Engkau anugerahkan padaku. Sebagai manusia dengan banyak keterbatasan aku kagum pada kehidupan, manakala aku merenungkan keajaiban bahwa aku diberi hak hidup; bahwa aku seorang manusia yang punya kesadaran, hidup ditengah-tengah galaksi Bimasakti yang maha luas ini, dengan segenap rasa dan kemampuanku.

Aku memohon kepada Tuhan, jangan sampai hariku ini tersia-sia. Dari fajar hingga petang aku akan selalu mengingat betapa hidup adalah sebuah anugerah yang teramat besar. Di akhir hariku, sebelum tidur aku akan mengenang semua hal terindah yang ku alami sepanjang hari, sekecil apapun itu, dan bershukur pada-Nya atas hari yang telah kulalui.

Terimakasih Tuhan....


Copas dari: http://www.facebook.com/balimeditasi.cintakasih?directed_target_id=0

Rabu, 24 April 2013

Mengapa anak yang lahir, selalu dalam keadaan menangis?

Mengapa setiap anak yang lahir dari rahim ibunya, memberi rasa sakit yang sangat kepada ibunya?. 
Mengapa anak yang lahir, selalu dalam keadaan menangis?. 
Jika engkau mencoba melihat secara mendalam terhadap hal-hal yang remeh ini, mungkin sekali ini akan akan dapat mengilhami andaakan rahasia-rahasia kehidupan.

Sang anak memberontak saat keluar dari rahim ibunya karena kandungan ibu telah menjadi rumahnya, dia tidak mengetahui sistem penanggalan apapun. Sembilan bulan adalah hampir menyamai keabadian, ini terasa berlangsung selamanya. Sejauh yang pernah dia ketahui, dia selalu berada di dalam kandungan. Sekarang... tiba-tiba rumahnya digusur, dia dipaksa keluar dan dia memberontak dengan seluruh tenaga yang dia miliki.

Oleh karena itulah dia selalu lahir dalam keadaan menangis... semua anak, tanpa ada pengecualian


~ Osho: Emotional Learning ~

Jumat, 19 April 2013

Setiap anak lahir dengan kemampuan merasakan keseluruhan alam



Setiap anak lahir dengan kemampuan merasakan keseluruhan alam, tidak mengetahui keterpisahan dia dari alam. Melalui proses belajar yg lambat kita mengajarkan dia untuk merasa terpisah, kita memberi dia sebuah nama, sebuah identitas, sifat-sifat dan ambisi-ambisi. Kita menciptakan sebuah kepribadian di sekitarnya.

Perlahan-lahan kepribadian ini menjadi lebih tebal dan solid melalui pengasuhan masa kanak-kanak, pendidikan dan pengajaran agama. Ketika kepribadian menjadi lebih menebal, sang anak mulai melupakan siapa dia sebenarnya.....

~ Osho: Emotional Learning ~

Senin, 08 April 2013

"YANG MENGAMBIL BATU AKAN MENYESAL, YANG TIDAK MENGAMBIL BATU JUGA AKAN MENYESAL."


Sebuah pulau yg ada di Eropa terdapat banyak batu-batuan dan terdapat sebuah papan bertuliskan:

"YANG MENGAMBIL BATU AKAN MENYESAL, YANG TIDAK MENGAMBIL BATU JUGA AKAN MENYESAL."

Heran dengan kalimat itu, ada yg malah tertarik untuk mengambil beberapa butir batu itu untuk melihat apa yg akan terjadi selanjutnya.

Beberapa yg lainnya tdk terlalu menggubrisnya. Jadi mereka tdk mengambil batu2 itu dan lbh tertarik utk menikmati segarnya air di danau itu.

Setelah kembali ke Eropa, mereka menyuruh ahli batuan utk memeriksa batu-batuan yg mereka bawa.

Ternyata batu-batuan itu adalah sejenis Safir yg dari luar tampaknya jelek tapi di dalamnya mrupakan permata yg sangat indah dan mahal harganya.

Yg tdk membawa batu itu jadi menyesal krn tdk membawanya, tetapi yg membawanya pun akhirnya menyesal krn tdk membawa lebih banyak.

Bukankah hidup manusia serupa seperti cerita di atas?

Kita mempunyai kehidupan yg sangat berharga. Namun bukankah kita seringkali kurang menghargai masa hidup ini justru di saat kita masih bisa hidup lama?

Hidup ini begitu bernilai. Jauh lebih bernilai daripada batu-batu permata.

Itulah sebabnya agar kita tdk menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan maksimal saat ini.


http://www.facebook.com/artikelbuddhis?ref=stream

Merasakan kehadiran Tuhan dan mencintaiNya.

Seringkali kita bicara bahwa kita mencintai Tuhan dan merasakan kehadiranNya, menurut 

saya itu tak lebih dari persepsi dan imajinasi kita.


Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Tuhan?, sedangkan sama tetangga atau saudara

sendiri tidak akur....


Bagaimana mungkin kita bisa merasakan kehadiran Tuhan?, sedangkan hati kita tak mampu 

berempati dengan penderitaan orang2 di sekitar kita...

Minggu, 07 April 2013

Minum obatnya


Ada cerita menarik yg pernah saya baca dari bukunya guru meditasi Goenka...

Ada orang sakit yg pergi ke dokter, setelah diperiksa dokter menjelaskan apa sakitnya dan sebab2nya serta tindakan pengobatannya. Setelah itu dokter memberi resep obat yg harus ditebus di apotik.
Orang sakit itu bangga pada dokternya yg hebat, ia bukannya terus menukarkan resepnya itu ke apotik tapi malah berteriak di jalan bahwa dokternya adalah yg paling hebat dan meminta semua orang mempercayai apa yg ia katakan.

Mungkin kitapun tak ubahnya seperti orang di atas, kita lebih suka bercerita dan menyombongkan agama, ilmu ataupun tehnik meditasi yg kita peroleh dari seorang guru kepada orang lain bahwa apa yg kita dapatkan adalah yg terbaik daripada melakukan praktek apa yg diajarkan oleh sang guru.

Senin, 01 April 2013

Kebahagiaan terbesar yang dapat dibayangkan manusia

Kebahagiaan terbesar yang dapat dibayangkan manusia adalah ikatan perkawinan yang

mempersatukan dua hati yang saling mencintai.

Tetapi... masih ada kebahagiaan yg lebih besar dari perkawinan, yaitu memeluk kebenaran.

Kematian akan memisahkan suami dari istrinya, istri dari suaminya. Akan tetapi, kematian 

tidak akan pernah menjamah dia yang menikahkan diri dengan kebenaran...



~ Sang Buddha ~


Beranikah anda berbagi....?


Ada semacam paradox dalam diri manusia...

Semakin dia keluar dari dirinya sendiri, semakin hidupnya berkembang. Semakin dia egois, semakin jiwanya terkurung dan kerdil. Semakin hatinya terbuka bagi sesamanya, semakin dia mewujudkandirinya, tetapi semakin hatinya tertutup bagi sesama, semakin dia tak menemukan diri sejatinya.

Hari-hari ini.... beranikah kita berbagi...?

Atasi rasa takut ditolak bilamana keterbukaan diri kita tidak diterima. Hidup berbagi memang membutuhkanketerlibatan diri secara total.

Seperti bunga, semakin ia membuka dirinya, semakin indah dan menariklah bunga itu dan semakin berwarnalah kehidupan ini.

Itulah buah-buah dari berbagi....

Beranikah anda berbagi....?

Sabtu, 30 Maret 2013

Pejamkanlah tatapanmu pada ilusi dunia ini...


I Love. ♥
Dan pejamkanlah tatapanmu pada ilusi dunia ini...
Lihatlah dalam kejernihan yang diperdengarkan kasih pada hatimu...
Rasakanlah kehangatan yang menyejukkan jiwa itu memelukmu..
Membawamu terbang dan mengelilingi samudra kehidupan ini..
Menari dan berputar diatas bunga lotus mekar yang mencahayakan bulir kemilau..
Terkirimkan pada setiap jiwa yang memanggil nama Kasih dalam hatinya...♥

Hidup itu ibarat timbangan



Rabu, 27 Maret 2013

Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma.


Pada tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, Yudhistira menemukan keempat adiknya tewas. Di tepi sebuah danau tergeletak dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Keduanya adik yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.

Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa yang terjadi? Sementara pikirannya galau, ia dengar suara berat yang tak tampak sumbernya.

Suara itu mengatakan, keempat kesatria tersebut mati karena melanggar larangan: mereka telah diberi tahu agar tak meminum air telaga itu, tapi mereka—dengan penuh percaya diri, bahkan angkuh—melawan pantangan tersebut. Yudhistira sebaiknya tak melakukan hal yang sama, kata suara gaib itu. Ia harus menjawab lebih dulu beberapa pertanyaan sebelum ia boleh mereguk air danau.

Yudhistira bersedia. Dalam Mahabharata ada beberapa pertanyaan yang dimajukan, tapi di sini saya kutip saja yang terakhir, yang paling menentukan.

Kata suara gaib: ”Salah satu dari adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Ia pejamkan matanya, dan pilihan-pilihan yang sulit bertabrakan dalam gelap. Akhirnya sahutnya lirih: ”Nakula.”

”Nakula?” suara itu heran. ”Bukan Bhima, saudara kandungmu yang kau sayangi, yang kekuatannya setara dengan puluhan gajah? Bukan Arjuna, sang pemanah piawai?”

”Bukan,” jawab Yudhistira, kata-katanya semakin mantap. ”Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma. Nakula aku pilih karena aku, yang selamat dan hidup, adalah putra Kunthi. Sudah sepatutnya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku.”

Mendengar jawaban itu, suara itu pun raib, dan muncullah Batara Yama di depan Yudhistira. Dewa Maut itu dengan mesra memeluknya. Kahyangan terpesona akan kata-kata putra sulung Pandhu tersebut. Tak ayal, keempat jenazah itu—tak hanya Nakula—dihidupkan kembali.

Ketika saya baca lagi fragmen Mahabharata ini, saya merasa Yudhistira, seorang penjudi yang gagal, sadar: ketika ia memilih, ia ibarat melempar dadu. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetulan-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd.

Sebab di tepi telaga itu Yudhistira sebenarnya tak tahu, muka mana dari dadu yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih Nakula, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku di hutan ini. Aku tak tahu, tapi aku tak takut. Aku siap.

Pada saat itu ia jadi manusia yang mendekati Zarathustra dalam puisi Nietzsche: baginya keluasan langit ibarat meja para dewa tempat dadu kahyangan dilontarkan. Baginya hidup ibarat angkasa yang murni: terlepas dari jaring-jaring akal yang mematoknya dengan tujuan dan menambatnya ke dalam hubungan kausalitas. Dalam hidup, yang bergerak adalah ketidakpastian. Yudhistira menerima itu. Dalam pengertian Deleuze, ia bukan ”pemain dadu yang buruk”. Pemain dadu yang buruk masuk gelanggang dengan bersenjata teori probabilitas. Yudhistira tidak.

Itukah sebabnya, 13 tahun yang lalu, ia terima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan? Itukah sebabnya ia mau menghadapi lawan judi yang tangguh dan curang, Sengkuni?

Mahabharata tak begitu jelas di sini. Yang kita ketahui, Yudhistira datang ke meja pertaruhan yang fatal itu—yang kelak jadi benih perang besar keluarga Bharata.

Ia tak berhitung dengan kalkulasi kemungkinan. Tak ada strategi mendapatkan tampilan dadu yang pas dengan yang ditebaknya. Ia cuma memandang ke langit-langit gelap, merasa tiap lontaran tak pernah sama, biarpun berkali-kali. Tiap kali dadu jatuh itu adalah kebetulan yang niscaya tak dapat diperhitungkan. Teori probabilitas terlampau menyederhanakannya.

Yudhistira berani, tapi ia bersalah. Ia jadikan hartanya, kerajaannya, adik-adiknya, bahkan dirinya, dan akhirnya istrinya, barang taruhan. Semuanya jatuh ke tangan lawan. Memang ia tampil dengan askesis yang kukuh: sanggup menerima absurditas seraya menghilangkan diri sebagai subyek yang menguasai hal ihwal. Tapi dalam tawakal itu ia tak tergerak oleh liyan, tak terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain.

Kemudian ia berubah. Dari adegan di tepi telaga itu tampak, hari itu Yudhistira bukan lagi pelontar dadu yang lembek di depan Sengkuni. Nasib dan Kelak tak dapat dikuasainya, tapi ia tak pasif. Ia bukan seonggok otomaton. Ia memilih dengan sepenuh hati: Nakula. Ia korbankan cintanya kepada Bhima dan harapannya kepada Arjuna.

Artinya, ia hadir dalam subyektivitas yang kuat. Tapi saat itu dharma-nya bukanlah aktualisasi ”aku yang teguh”, melainkan sesuatu yang membuat hidup terasa tak terhingga, memeluk sesama, melalui batas asal-usul. Ia rasakan kasih dan harapan, justru dalam cemas dan ketidaklengkapan.

Mungkin itu sebabnya dalam Mahabharata, Yudhistira adalah kesatria yang ganjil. Ia raja yang menganggap diri pendosa; begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu. Baginya, perilaku para kesatria, kasta pendekar perang, mirip tingkah anjing yang memperebutkan sisa makanan. Ia tahu posisi raja dan panggilan dharma selalu akan bertentangan—dharma-caryã _ca rãjyam nityam eva virudhyate.

Dengan demikian ia memang tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta, dan perannya. Tapi, seperti dikatakannya kepada suara gaib di tepi danau itu, (saya kutip dari penceritaan Nyoman S. Pendit), ”orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”.

Goenawan Mohamad

Senin, 25 Maret 2013

Keterbatasan Dogma



Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung sedang berada di jalan di Ghazna, ibukota kerajaannya. Ia menyaksikan seorang kuli susah payah mengangkat sebongkah batu besar di pundaknya. Tergerak oleh belas kasihan atas keadaan kuli itu dan karena tak sanggup menahan rasa haru, Mahmud pun memanggilnya, dalam perintah raja, "Turunkan batu itu, Kuli."

Segera saja perintah itu dipatuhi. Batu itu pun teronggok di sana, menghambat semua orang yang mencoba lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, beberapa orang mewakili rakyat untuk menghadap raja, memohon kepadanya agar memerintahkan supaya batu itu dipindahkan.

Namun, Mahmud, yang memikirkan wibawa kerajaan, terpaksa menjawab, "Segala hal yang sudah dilaksanakan atas perintah raja tidak dapat dibatalkan oleh perintah lain yang memiliki kekuatan hukum yang sama. Kalau tidak demikian, maka rakyat akan berpikir bahwa perintah raja hanya iseng belaka. Batu itu akan tetap di tempatnya sekarang."

Demikianlah, batu itu tidak dipindahkan sepanjang sisa hidup Sultan Mahmud. Bahkan, setelah ia meninggal pun batu itu tetap di sana sebagai tanda penghormatan kepada perintah raja.

Kisah itu tersebar luas. Orang-orang mengartikannya dalam salah satu dari tiga cara, masing-masing sesuai dengan tingkat pemahamannya. Mereka yang menentang penguasa menganggap kisah itu bukti kebodohan penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Mereka yang memuja kekuasaan, menaati setiap perintah, meskipun tak nyaman. Mereka yang mengerti secara tepat, menembus pesan moral yang disampaikan sang raja, tanpa menghiraukan kemashyurannya di kalangan orang-orang biasa. Sebab, dengan menaruh batu besar di jalan yang dilalui orang ramai, dan menguatkan alasannya untuk berbuat demikian, Mahmud memberitahu mereka yang mengerti untuk menaati wibawa penguasa yang sementara, namun sekaligus menyadari bahwa orang yang memerintah dengan dogma yang kaku tidak akan dapat memberi manfaat seutuhnya bagi umat manusia.

Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi.

Versi sekarang ini merupakan bagian dari ajaran Syeh Sufi Daud dari Qandahar, yang meninggal pada tahun 1965. Kisah ini memberikan gambaran yang bagus tentang berbagai tingkat pemahaman terhadap segala tindakan, yang dimiliki oleh orang-orang yang menilai sesuatu sesuai dengan latihan yang mereka terima. Metode penggambaran tidak langsung yang dipergunakan oleh Sultan Mahmud secara klasik bersifat sufistik, seperti tersimpulkan dalam ungkapan 'Bicaralah kepada tembok, supaya pintu bisa mendengar.'




Diterjemahkan dari Idries Shah, Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London

Minggu, 24 Maret 2013

Dogma-dogma baru dalam facebook

Yang namanya dogma itu selalu muncul dalam berbagai bentuk, jika agama2 menggunakan dogma2 yg sdh usang... sekarang di facebook muncul dogma2 baru yg lebih uptodate, lebih canggih dan lebih keren. Bahwa manusia itu adalah Star Sheed... tuh keren kan? namanya juga dogma, kebenarannya sulit untuk dibuktikan. Hanya para nabi atau orang yg bisa chaneling saja yg tahu, masyarakat cukup dibuat terkagum2 saja...

Kita tak pernah tahu sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk sebelum kita mencobanya.

Bisa jadi apa yg saya pilih ini salah, dan biarkan saya jalani apa yg telah saya pilih ini. Karena lebih baik salah daripada tidak melakukan perubahan apapun dan kita tak pernah tahu sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk... sebelum kita mencobanya.

Jumat, 22 Maret 2013

Sakit dan sehat adalah mitos.

Sakit dan sehat adalah mitos, hal itu tidak ada dalam lapisan fisik dan mental. Hanya Tubuh dan pikiran yang terkena penyakit.

Atma... diri sejatimu di atas semua ini, dan oleh karena itu bebas abadi dari penyakit dan kematian.

~ Sri Swami Sivananda ~

Cara mengatasi akun facebook yg dijahili hacker

Postingan ini memang sengaja saya pasang di sini agar memudahkan saya dan teman2 lainnya untuk mencarinya kembali bila suatu saat akun facebook kita kena hack orang.
Semoga bermanfaat....

Akun kamu kena hack??
jgn kwater.. ini ada 5 cara lolos dari HACK..

=============
yudhi
=============

Setelah mengetahui account Anda sedang di-hack orang lain, tentunya Anda harus tahu cara mengatasinya. Sebagian orang masih belum tahu caranya dan justru meminta bantuan orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai jejaring sosial terbesar di dunia, tentunya Facebook sudah sudah memikirkan dan mengimplementasikan berlapis-lapis tingkat keamanan account pengguna. Bahkan, Anda masih bisa mendapatkan account Anda meskipun password-nya telah diganti. Selengapnya bisa Anda baca di bawah ini.

1. Ubah password Anda
Bila Anda mendapati account Anda telah diakses tanpa izin oleh orang lain, tetapi password-nya belum diganti oleh sang pembobol, ubahlah password Anda di menu Account Settings > General > Password.

2. Cek e-mail untuk perubahan password
Apabila sang pembobol berusaha mengganti password Anda, sebenarnya Anda akan menerima pemberitahuan di seluruh e-mail Anda yang terasosiasi dengan account dengan account Anda bahwa ada seseorang yang mengubah password Anda. Bila Anda tidak merasa melakukan hal tersebut, segera buk e-mail Anda dan klik link yang dikirimkan oleh Facebook.

Setelah membuka link tersebut, klik tombol Continue bila memang Anda merasa account tersebut di-hack orang lain.Anda juga akan diminta untuk mengisi password baru Anda.

3. Laporkan account Anda yang dibobol
Pembobolan yang terjadi terkadang tidak sekedar pembobolan biasa. Bisa jadi tiba-tiba account anda mengirim spam seenaknya ke account teman Anda. Anda bisa melaporkan hal tersebut melalui alamat http://www.facebook.com/hacked/. Klik tombol My Account is Compromised.

Anda akan diminta mengisi e-mail, username, ataupun nama Anda dan teman Anda untuk mengidentifikasi account Anda. Setelah itu, Anda diminta untuk mengisi password Anda, baik yang baru maupun yang lama.

4. Hubungi teman Anda
Terkadang tujuan pembobolan adalah melakukan penipuan dengan menggunakan account Anda. Bisa jadi teman Anda di Facebook akan menjadi korbannya. Karena itu, setelah melakukan penyelamatan yang Anda lakukan, hubungi langsung teman Anda secara personal untuk mengabari bahwa account Anda telah di-hack melalui SMS, e-mail, maupun cara lainnya.

5. Hapus akses aplikasi yang tidak diperlukan
Facebook menyediakam API yang memungkinkan aplikasi lain mengakses account Anda. Tentu saja karena telah menggunakan OAuth, hak akses setiap aplikasi ada di tangan Anda. Karena terkadang ada aplikasi yang sengaja untuk meng-hijack account Anda, segeralah hapus akses aplikasi yang tidak Anda perlukan melalui menu Account Settings > Apps. Anda bisa melihat setiap tingkat akses aplikasi third-party yang ada

Kamis, 21 Maret 2013

Bayangkan jika Tuhan mendengarkan doa-doa setiap manusia...

Kita ini orang egois, mementingkan diri sendiri.
Ketika kita berdoapun keegoisan itu nampak, kita berdoa agar menang pertandingan, kita berdoa agar tempat kita tidak hujan, kita berdoa agar tempat kita tidak terkena bencana, dll... Intinyakita selalu ingin mementingkan diri kita sendiri.

Bayangkan jika Tuhan mendengarkan doa2 setiap manusia...
Pasti Tuhan akan bingung.
Tak ada yg mau kehujanan.
Tak ada yg mau kalah, semua ingin jadi pemenang.
Tidak ada yg mau terkena bencana, biar tempat lain saja yg kena bencana.

Pernahkah kita berdoa untuk dikuatkan dan menerima apapun yg terjadi dengan hati ikhlas?

Rabu, 20 Maret 2013

Tentang mengingatkan orang lain

Seringkali kita sibuk mengingatkan orang lain tapi kita lupa menata diri sendiri, dengan mengingatkan orang lain kita merasa bahwa diri kitalah yg paling benar.

Sabtu, 16 Maret 2013

---» Voice Of The Nature «---




Modern man does not listen to the voice of nature because of his preoccupation with material gain and pleasure. His mental activities are so preoccupied with wordly pleasures that he neglects the needs of his spiritual self. This unnatural behaviour of contemporary man immediately results in a wrong world view of human life and its ultimate purpose. It is the cause of all frustation, anxiety, fear, and insecurity of our present times.

If man is cruel and wicked, lives against the laws of nature and the cosmos, his acts, words and thougths pollute the whole atmosphere. Nature abused will not provide what man requires for his living; instead, clashes, conflicts, epidemics and disaters will be in store
for him.

If man lives in accordance with the natural law, leads a righteous life, purifies the  atmosphere through the merits of his virtues and radiates his compassionate love towards other living beings, he can bring human happiness. One who really likes peace should not violate another man's freedom. It is wrong to disturb and deceive others.

You may be a very busy person, but spend at least a few minutes a day in meditation or in reading some valuable books. This habit will rẹlieve you of your worries and will develop your mind. Religion is your benefit. Therefore, it is your duty to think about your religion. Spare some time to attend gatherings held in a religious atmosphere. Even a short period spent in the company of spiritually inclined people will produce good results.

May All Be Happy!


Tatkala bangun di pagi hari....

Tatkala bangun di pagi hari, kebanyakan orang ingat membangunkan badan, jarang yg ingat membangunkan kesadaran

Perjalanan pencerahan bukan perjalanan mengumpulkan, tapi perjalanan melepaskan sampai kita telanjang sepenuhnya dari kepemilikan.

Serupa penggembala domba yg mengutamakan dombanya, kita tidak perlu tercerahkan dulu baru kemudian membimbing orang2 pulang

Keajaiban yg paling ajaib bukan apa yg terjadi di langit, tapi apa yg terjadi tatkala hati hanya berisi kasih sayang

Ada banyak jenis wewangian menyentuh, wewangian yang paling menyentuh hati adl sikap keseharian yg tdk mementingkan diri sendiri.

Kadang kala seni hidup berarti seni berhenti. Berhenti mengejar dan Anda pun pulang. Berhenti meminta2 dan Anda pun berkecukupan.

~ Gede Prama's Compassion ~