Entah telah berapa belas tahun saya tak naik kereta api kelas ekonomi. Mungkin terakhir pada tahun 1992, berarti sudah 21 tahun. Ya, sudah 21 tahun duduk di kereta beradab : Duduk dalam keheningan yang nyaman, tak berbicara dengan bangku sebelah dan hanya bisa menatap punggung penumpang di kursi depan. Sungguh, peradaban masa kini adalah sebuah peradaban yang autistik. Dan sayapun menikmati autisme itu, tentunya atas nama privacy...
Tapi kereta ekonomi ini tiba-tiba menarik. Kulit luarnya lumayan mulus, perpaduan antara warna putih dengan biru muda. Namanya Gajahwong, merayap dari Jogja ke Jakarta. Saya sempat mengintip ke dalam sebelum memutuskan membeli tiket. Gerbongnya bersih ber-AC. Kursinya sofa abu-abu muda yang lumayan empuk, namun sandarannya terlalu tegak. Yang membedakannya dengan kereta api kelas bisnis dan eksekutif, adalah peradabannya : penumpang duduk berhadap-hadapan. Ya...ya... PT Kereta Api telah mendefinisikan level peradaban kelas Paria : Berhadap-hadapan !!!
Ah... isi saku ini akhirnya ikut membulatkan tekad untuk membeli tiket kelas ekonomi. Saya duduk di samping jendela, berhadapan dengan seorang ibu dan anaknya. Sedangkan di sebelah saya duduk seorang anak lelaki balita. Kereta berangkat tepat waktu, dan berbeda dengan kereta ekonomi jaman silam ternyata para penumpangnya lebih santun dan “beradab” : duduk rapi di kursi masing-masing, mulai memesan makanan dan mengkhusyuki gadget masing-masing.
Tapi itu ternyata tak lama. Kereta satu jam beranjak dari Stasiun Tugu dan suasana mulai riuh-rendah. Seorang ibu mulai menggendong anaknya yang rewel bolak-balik di gerbong. Di sana-sini percakapan telah dimulai diselingi derai tawa. Penumpang kursi seberang mulai menggelar koran di koridor gerbong, menidurkan anaknya berbekal bantal yang disewa. Puncaknya, beberapa penumpang lain mulai melangkahi badan, bahkan kepala, penumpang yang tergeletak pasrah di koridor gerbong kereta. Tak ada marah, karena mereka tertidur di “wilayah publik” tempat lalu-lalang.
Ya Rabbii... saya menemukan kembali peradaban itu. Betul : peradaban manusia seutuhnya !!! Peradaban di mana kami bercakap-cakap dengan manusia lain. Peradaban di mana kami saling bercerita dan tergelak. Peradaban dimana saya terhubungkan dengan kursi sebelah, karena ingin meminjam koran. Peradaban di mana kami tak perlu lagi membunuh waktu dengan menyumbat lubang telinga pakai earphone. Peradaban yang membuat kami saling memaklumi dan memaafkan. Seakan di Indonesia rasanya.
Biang keladinya adalah ini : Saling berhadap-hadapan, face to face !!! Ada mata yang terpaksa saling menatap, ada hati yang tersambung, ada fenomena yang tersaksikan secara lebih gamblang, ada frekuensi sosial yang bertaut. Ah... sang ibu seberang tanpa sungkan tiba-tiba menceritakan masalah anak lelakinya, ketika ia tahu saya adalah seorang psikolog. Entah kenapa, privacy saya tak merasa terganggu dengan curhat ini, karena privacy telah mengalah ketika duduk telah saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Inilah sebuah peradaban luhur yang justru dengan sengaja dibunuh di kelas bisnis dan eksekutif. Peradaban yang dimatikan oleh gadget dan game online. Peradaban yang ditindas oleh distance learning, atasnama teknologi dan pembelajaran antar benua yang mengatasi ruang dan waktu. Kita adalah generasi autis yang hilang kepercayaan diri sosial, sehingga lebih nyaman untuk menatap layar tablet daripada menatap mata sejawat yang satu lift dengan kita. Kita merasa butuh kesendirian demi alasan privacy, padahal alasan sebenarnya adalah karena kita kehilangan sosiabilitas.
Ah... di Kereta Api Gajahwong tiba-tiba saya kehilangan selera dengan yang namanya distance learning. Tidak ! Belajar itu harus berhadap-hadapan, menatap mata dan merasakan aura antara guru dan murid. Distance learning mungkin cukup sahih untuk sekadar mentransfer pengatahuan, knowledge. Tapi distance learning bukan sebuah perangkat untuk menciptakan kompetensi, membentuk karakter, menghasilkan ilmuwan dan teknolog.
Tidak ! para murid harus kembali merebut haknya untuk bertemu dan mencium tangan guru-gurunya dengan takzim. Para murid harus bercengkrama dengan guru dan teman-temannya di sebuah ruang di mana mereka berkumpul secara fisik. Agar mereka belajar dengan guru mereka, agar mereka belajar dengan sesama teman mereka. Agar transfer ilmu itu terjadi lewat tatapan mata, lewat senyum tulus dan lewat tangan yang saling berpegangan. Dan itu semua terjadi saat jarak diantara mereka tak lebih dari sepuluh meter, sebuah closed learning...
Copas dari: https://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/472932822788318/
