Mengapa setiap anak yang lahir dari rahim ibunya, memberi rasa sakit yang sangat kepada ibunya?. Mengapa anak yang lahir, selalu dalam keadaan menangis?. Jika engkau mencoba melihat secara mendalam terhadap hal-hal yang remeh ini, mungkin sekali ini akan akan dapat mengilhami andaakan rahasia-rahasia kehidupan.
Sang anak memberontak saat keluar dari rahim ibunya karena kandungan ibu telah menjadi rumahnya, dia tidak mengetahui sistem penanggalan apapun. Sembilan bulan adalah hampir menyamai keabadian, ini terasa berlangsung selamanya. Sejauh yang pernah dia ketahui, dia selalu berada di dalam kandungan. Sekarang... tiba-tiba rumahnya digusur, dia dipaksa keluar dan dia memberontak dengan seluruh tenaga yang dia miliki.
Oleh karena itulah dia selalu lahir dalam keadaan menangis... semua anak, tanpa ada pengecualian
~ Osho: Emotional Learning ~
Setiap anak lahir dengan kemampuan merasakan keseluruhan alam, tidak mengetahui keterpisahan dia dari alam. Melalui proses belajar yg lambat kita mengajarkan dia untuk merasa terpisah, kita memberi dia sebuah nama, sebuah identitas, sifat-sifat dan ambisi-ambisi. Kita menciptakan sebuah kepribadian di sekitarnya.
Perlahan-lahan kepribadian ini menjadi lebih tebal dan solid melalui pengasuhan masa kanak-kanak, pendidikan dan pengajaran agama. Ketika kepribadian menjadi lebih menebal, sang anak mulai melupakan siapa dia sebenarnya.....
~ Osho: Emotional Learning ~

Sebuah pulau yg ada di Eropa terdapat banyak batu-batuan dan terdapat sebuah papan bertuliskan:
"YANG MENGAMBIL BATU AKAN MENYESAL, YANG TIDAK MENGAMBIL BATU JUGA AKAN MENYESAL."
Heran dengan kalimat itu, ada yg malah tertarik untuk mengambil beberapa butir batu itu untuk melihat apa yg akan terjadi selanjutnya.
Beberapa yg lainnya tdk terlalu menggubrisnya. Jadi mereka tdk mengambil batu2 itu dan lbh tertarik utk menikmati segarnya air di danau itu.
Setelah kembali ke Eropa, mereka menyuruh ahli batuan utk memeriksa batu-batuan yg mereka bawa.
Ternyata batu-batuan itu adalah sejenis Safir yg dari luar tampaknya jelek tapi di dalamnya mrupakan permata yg sangat indah dan mahal harganya.
Yg tdk membawa batu itu jadi menyesal krn tdk membawanya, tetapi yg membawanya pun akhirnya menyesal krn tdk membawa lebih banyak.
Bukankah hidup manusia serupa seperti cerita di atas?
Kita mempunyai kehidupan yg sangat berharga. Namun bukankah kita seringkali kurang menghargai masa hidup ini justru di saat kita masih bisa hidup lama?
Hidup ini begitu bernilai. Jauh lebih bernilai daripada batu-batu permata.
Itulah sebabnya agar kita tdk menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan maksimal saat ini.
http://www.facebook.com/artikelbuddhis?ref=stream
Seringkali kita bicara bahwa kita mencintai Tuhan dan merasakan kehadiranNya, menurut
saya itu tak lebih dari persepsi dan imajinasi kita.
Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Tuhan?, sedangkan sama tetangga atau saudara
sendiri tidak akur....
Bagaimana mungkin kita bisa merasakan kehadiran Tuhan?, sedangkan hati kita tak mampu
berempati dengan penderitaan orang2 di sekitar kita...
Ada cerita menarik yg pernah saya baca dari bukunya guru meditasi Goenka...Ada orang sakit yg pergi ke dokter, setelah diperiksa dokter menjelaskan apa sakitnya dan sebab2nya serta tindakan pengobatannya. Setelah itu dokter memberi resep obat yg harus ditebus di apotik.
Orang sakit itu bangga pada dokternya yg hebat, ia bukannya terus menukarkan resepnya itu ke apotik tapi malah berteriak di jalan bahwa dokternya adalah yg paling hebat dan meminta semua orang mempercayai apa yg ia katakan.
Mungkin kitapun tak ubahnya seperti orang di atas, kita lebih suka bercerita dan menyombongkan agama, ilmu ataupun tehnik meditasi yg kita peroleh dari seorang guru kepada orang lain bahwa apa yg kita dapatkan adalah yg terbaik daripada melakukan praktek apa yg diajarkan oleh sang guru.
Kebahagiaan terbesar yang dapat dibayangkan manusia adalah ikatan perkawinan yang
mempersatukan dua hati yang saling mencintai.Tetapi... masih ada kebahagiaan yg lebih besar dari perkawinan, yaitu memeluk kebenaran.
Kematian akan memisahkan suami dari istrinya, istri dari suaminya. Akan tetapi, kematian
tidak akan pernah menjamah dia yang menikahkan diri dengan kebenaran...
~ Sang Buddha ~
Ada semacam paradox dalam diri manusia...Semakin dia keluar dari dirinya sendiri, semakin hidupnya berkembang. Semakin dia egois, semakin jiwanya terkurung dan kerdil. Semakin hatinya terbuka bagi sesamanya, semakin dia mewujudkandirinya, tetapi semakin hatinya tertutup bagi sesama, semakin dia tak menemukan diri sejatinya.
Hari-hari ini.... beranikah kita berbagi...?
Atasi rasa takut ditolak bilamana keterbukaan diri kita tidak diterima. Hidup berbagi memang membutuhkanketerlibatan diri secara total.
Seperti bunga, semakin ia membuka dirinya, semakin indah dan menariklah bunga itu dan semakin berwarnalah kehidupan ini.
Itulah buah-buah dari berbagi....
Beranikah anda berbagi....?