Translate

Sabtu, 30 Maret 2013

Pejamkanlah tatapanmu pada ilusi dunia ini...


I Love. ♥
Dan pejamkanlah tatapanmu pada ilusi dunia ini...
Lihatlah dalam kejernihan yang diperdengarkan kasih pada hatimu...
Rasakanlah kehangatan yang menyejukkan jiwa itu memelukmu..
Membawamu terbang dan mengelilingi samudra kehidupan ini..
Menari dan berputar diatas bunga lotus mekar yang mencahayakan bulir kemilau..
Terkirimkan pada setiap jiwa yang memanggil nama Kasih dalam hatinya...♥

Hidup itu ibarat timbangan



Rabu, 27 Maret 2013

Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma.


Pada tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, Yudhistira menemukan keempat adiknya tewas. Di tepi sebuah danau tergeletak dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Keduanya adik yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.

Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa yang terjadi? Sementara pikirannya galau, ia dengar suara berat yang tak tampak sumbernya.

Suara itu mengatakan, keempat kesatria tersebut mati karena melanggar larangan: mereka telah diberi tahu agar tak meminum air telaga itu, tapi mereka—dengan penuh percaya diri, bahkan angkuh—melawan pantangan tersebut. Yudhistira sebaiknya tak melakukan hal yang sama, kata suara gaib itu. Ia harus menjawab lebih dulu beberapa pertanyaan sebelum ia boleh mereguk air danau.

Yudhistira bersedia. Dalam Mahabharata ada beberapa pertanyaan yang dimajukan, tapi di sini saya kutip saja yang terakhir, yang paling menentukan.

Kata suara gaib: ”Salah satu dari adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Ia pejamkan matanya, dan pilihan-pilihan yang sulit bertabrakan dalam gelap. Akhirnya sahutnya lirih: ”Nakula.”

”Nakula?” suara itu heran. ”Bukan Bhima, saudara kandungmu yang kau sayangi, yang kekuatannya setara dengan puluhan gajah? Bukan Arjuna, sang pemanah piawai?”

”Bukan,” jawab Yudhistira, kata-katanya semakin mantap. ”Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma. Nakula aku pilih karena aku, yang selamat dan hidup, adalah putra Kunthi. Sudah sepatutnya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku.”

Mendengar jawaban itu, suara itu pun raib, dan muncullah Batara Yama di depan Yudhistira. Dewa Maut itu dengan mesra memeluknya. Kahyangan terpesona akan kata-kata putra sulung Pandhu tersebut. Tak ayal, keempat jenazah itu—tak hanya Nakula—dihidupkan kembali.

Ketika saya baca lagi fragmen Mahabharata ini, saya merasa Yudhistira, seorang penjudi yang gagal, sadar: ketika ia memilih, ia ibarat melempar dadu. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetulan-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd.

Sebab di tepi telaga itu Yudhistira sebenarnya tak tahu, muka mana dari dadu yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih Nakula, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku di hutan ini. Aku tak tahu, tapi aku tak takut. Aku siap.

Pada saat itu ia jadi manusia yang mendekati Zarathustra dalam puisi Nietzsche: baginya keluasan langit ibarat meja para dewa tempat dadu kahyangan dilontarkan. Baginya hidup ibarat angkasa yang murni: terlepas dari jaring-jaring akal yang mematoknya dengan tujuan dan menambatnya ke dalam hubungan kausalitas. Dalam hidup, yang bergerak adalah ketidakpastian. Yudhistira menerima itu. Dalam pengertian Deleuze, ia bukan ”pemain dadu yang buruk”. Pemain dadu yang buruk masuk gelanggang dengan bersenjata teori probabilitas. Yudhistira tidak.

Itukah sebabnya, 13 tahun yang lalu, ia terima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan? Itukah sebabnya ia mau menghadapi lawan judi yang tangguh dan curang, Sengkuni?

Mahabharata tak begitu jelas di sini. Yang kita ketahui, Yudhistira datang ke meja pertaruhan yang fatal itu—yang kelak jadi benih perang besar keluarga Bharata.

Ia tak berhitung dengan kalkulasi kemungkinan. Tak ada strategi mendapatkan tampilan dadu yang pas dengan yang ditebaknya. Ia cuma memandang ke langit-langit gelap, merasa tiap lontaran tak pernah sama, biarpun berkali-kali. Tiap kali dadu jatuh itu adalah kebetulan yang niscaya tak dapat diperhitungkan. Teori probabilitas terlampau menyederhanakannya.

Yudhistira berani, tapi ia bersalah. Ia jadikan hartanya, kerajaannya, adik-adiknya, bahkan dirinya, dan akhirnya istrinya, barang taruhan. Semuanya jatuh ke tangan lawan. Memang ia tampil dengan askesis yang kukuh: sanggup menerima absurditas seraya menghilangkan diri sebagai subyek yang menguasai hal ihwal. Tapi dalam tawakal itu ia tak tergerak oleh liyan, tak terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain.

Kemudian ia berubah. Dari adegan di tepi telaga itu tampak, hari itu Yudhistira bukan lagi pelontar dadu yang lembek di depan Sengkuni. Nasib dan Kelak tak dapat dikuasainya, tapi ia tak pasif. Ia bukan seonggok otomaton. Ia memilih dengan sepenuh hati: Nakula. Ia korbankan cintanya kepada Bhima dan harapannya kepada Arjuna.

Artinya, ia hadir dalam subyektivitas yang kuat. Tapi saat itu dharma-nya bukanlah aktualisasi ”aku yang teguh”, melainkan sesuatu yang membuat hidup terasa tak terhingga, memeluk sesama, melalui batas asal-usul. Ia rasakan kasih dan harapan, justru dalam cemas dan ketidaklengkapan.

Mungkin itu sebabnya dalam Mahabharata, Yudhistira adalah kesatria yang ganjil. Ia raja yang menganggap diri pendosa; begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu. Baginya, perilaku para kesatria, kasta pendekar perang, mirip tingkah anjing yang memperebutkan sisa makanan. Ia tahu posisi raja dan panggilan dharma selalu akan bertentangan—dharma-caryã _ca rãjyam nityam eva virudhyate.

Dengan demikian ia memang tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta, dan perannya. Tapi, seperti dikatakannya kepada suara gaib di tepi danau itu, (saya kutip dari penceritaan Nyoman S. Pendit), ”orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”.

Goenawan Mohamad

Senin, 25 Maret 2013

Keterbatasan Dogma



Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung sedang berada di jalan di Ghazna, ibukota kerajaannya. Ia menyaksikan seorang kuli susah payah mengangkat sebongkah batu besar di pundaknya. Tergerak oleh belas kasihan atas keadaan kuli itu dan karena tak sanggup menahan rasa haru, Mahmud pun memanggilnya, dalam perintah raja, "Turunkan batu itu, Kuli."

Segera saja perintah itu dipatuhi. Batu itu pun teronggok di sana, menghambat semua orang yang mencoba lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, beberapa orang mewakili rakyat untuk menghadap raja, memohon kepadanya agar memerintahkan supaya batu itu dipindahkan.

Namun, Mahmud, yang memikirkan wibawa kerajaan, terpaksa menjawab, "Segala hal yang sudah dilaksanakan atas perintah raja tidak dapat dibatalkan oleh perintah lain yang memiliki kekuatan hukum yang sama. Kalau tidak demikian, maka rakyat akan berpikir bahwa perintah raja hanya iseng belaka. Batu itu akan tetap di tempatnya sekarang."

Demikianlah, batu itu tidak dipindahkan sepanjang sisa hidup Sultan Mahmud. Bahkan, setelah ia meninggal pun batu itu tetap di sana sebagai tanda penghormatan kepada perintah raja.

Kisah itu tersebar luas. Orang-orang mengartikannya dalam salah satu dari tiga cara, masing-masing sesuai dengan tingkat pemahamannya. Mereka yang menentang penguasa menganggap kisah itu bukti kebodohan penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Mereka yang memuja kekuasaan, menaati setiap perintah, meskipun tak nyaman. Mereka yang mengerti secara tepat, menembus pesan moral yang disampaikan sang raja, tanpa menghiraukan kemashyurannya di kalangan orang-orang biasa. Sebab, dengan menaruh batu besar di jalan yang dilalui orang ramai, dan menguatkan alasannya untuk berbuat demikian, Mahmud memberitahu mereka yang mengerti untuk menaati wibawa penguasa yang sementara, namun sekaligus menyadari bahwa orang yang memerintah dengan dogma yang kaku tidak akan dapat memberi manfaat seutuhnya bagi umat manusia.

Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi.

Versi sekarang ini merupakan bagian dari ajaran Syeh Sufi Daud dari Qandahar, yang meninggal pada tahun 1965. Kisah ini memberikan gambaran yang bagus tentang berbagai tingkat pemahaman terhadap segala tindakan, yang dimiliki oleh orang-orang yang menilai sesuatu sesuai dengan latihan yang mereka terima. Metode penggambaran tidak langsung yang dipergunakan oleh Sultan Mahmud secara klasik bersifat sufistik, seperti tersimpulkan dalam ungkapan 'Bicaralah kepada tembok, supaya pintu bisa mendengar.'




Diterjemahkan dari Idries Shah, Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London

Minggu, 24 Maret 2013

Dogma-dogma baru dalam facebook

Yang namanya dogma itu selalu muncul dalam berbagai bentuk, jika agama2 menggunakan dogma2 yg sdh usang... sekarang di facebook muncul dogma2 baru yg lebih uptodate, lebih canggih dan lebih keren. Bahwa manusia itu adalah Star Sheed... tuh keren kan? namanya juga dogma, kebenarannya sulit untuk dibuktikan. Hanya para nabi atau orang yg bisa chaneling saja yg tahu, masyarakat cukup dibuat terkagum2 saja...

Kita tak pernah tahu sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk sebelum kita mencobanya.

Bisa jadi apa yg saya pilih ini salah, dan biarkan saya jalani apa yg telah saya pilih ini. Karena lebih baik salah daripada tidak melakukan perubahan apapun dan kita tak pernah tahu sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk... sebelum kita mencobanya.

Jumat, 22 Maret 2013

Sakit dan sehat adalah mitos.

Sakit dan sehat adalah mitos, hal itu tidak ada dalam lapisan fisik dan mental. Hanya Tubuh dan pikiran yang terkena penyakit.

Atma... diri sejatimu di atas semua ini, dan oleh karena itu bebas abadi dari penyakit dan kematian.

~ Sri Swami Sivananda ~

Cara mengatasi akun facebook yg dijahili hacker

Postingan ini memang sengaja saya pasang di sini agar memudahkan saya dan teman2 lainnya untuk mencarinya kembali bila suatu saat akun facebook kita kena hack orang.
Semoga bermanfaat....

Akun kamu kena hack??
jgn kwater.. ini ada 5 cara lolos dari HACK..

=============
yudhi
=============

Setelah mengetahui account Anda sedang di-hack orang lain, tentunya Anda harus tahu cara mengatasinya. Sebagian orang masih belum tahu caranya dan justru meminta bantuan orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai jejaring sosial terbesar di dunia, tentunya Facebook sudah sudah memikirkan dan mengimplementasikan berlapis-lapis tingkat keamanan account pengguna. Bahkan, Anda masih bisa mendapatkan account Anda meskipun password-nya telah diganti. Selengapnya bisa Anda baca di bawah ini.

1. Ubah password Anda
Bila Anda mendapati account Anda telah diakses tanpa izin oleh orang lain, tetapi password-nya belum diganti oleh sang pembobol, ubahlah password Anda di menu Account Settings > General > Password.

2. Cek e-mail untuk perubahan password
Apabila sang pembobol berusaha mengganti password Anda, sebenarnya Anda akan menerima pemberitahuan di seluruh e-mail Anda yang terasosiasi dengan account dengan account Anda bahwa ada seseorang yang mengubah password Anda. Bila Anda tidak merasa melakukan hal tersebut, segera buk e-mail Anda dan klik link yang dikirimkan oleh Facebook.

Setelah membuka link tersebut, klik tombol Continue bila memang Anda merasa account tersebut di-hack orang lain.Anda juga akan diminta untuk mengisi password baru Anda.

3. Laporkan account Anda yang dibobol
Pembobolan yang terjadi terkadang tidak sekedar pembobolan biasa. Bisa jadi tiba-tiba account anda mengirim spam seenaknya ke account teman Anda. Anda bisa melaporkan hal tersebut melalui alamat http://www.facebook.com/hacked/. Klik tombol My Account is Compromised.

Anda akan diminta mengisi e-mail, username, ataupun nama Anda dan teman Anda untuk mengidentifikasi account Anda. Setelah itu, Anda diminta untuk mengisi password Anda, baik yang baru maupun yang lama.

4. Hubungi teman Anda
Terkadang tujuan pembobolan adalah melakukan penipuan dengan menggunakan account Anda. Bisa jadi teman Anda di Facebook akan menjadi korbannya. Karena itu, setelah melakukan penyelamatan yang Anda lakukan, hubungi langsung teman Anda secara personal untuk mengabari bahwa account Anda telah di-hack melalui SMS, e-mail, maupun cara lainnya.

5. Hapus akses aplikasi yang tidak diperlukan
Facebook menyediakam API yang memungkinkan aplikasi lain mengakses account Anda. Tentu saja karena telah menggunakan OAuth, hak akses setiap aplikasi ada di tangan Anda. Karena terkadang ada aplikasi yang sengaja untuk meng-hijack account Anda, segeralah hapus akses aplikasi yang tidak Anda perlukan melalui menu Account Settings > Apps. Anda bisa melihat setiap tingkat akses aplikasi third-party yang ada

Kamis, 21 Maret 2013

Bayangkan jika Tuhan mendengarkan doa-doa setiap manusia...

Kita ini orang egois, mementingkan diri sendiri.
Ketika kita berdoapun keegoisan itu nampak, kita berdoa agar menang pertandingan, kita berdoa agar tempat kita tidak hujan, kita berdoa agar tempat kita tidak terkena bencana, dll... Intinyakita selalu ingin mementingkan diri kita sendiri.

Bayangkan jika Tuhan mendengarkan doa2 setiap manusia...
Pasti Tuhan akan bingung.
Tak ada yg mau kehujanan.
Tak ada yg mau kalah, semua ingin jadi pemenang.
Tidak ada yg mau terkena bencana, biar tempat lain saja yg kena bencana.

Pernahkah kita berdoa untuk dikuatkan dan menerima apapun yg terjadi dengan hati ikhlas?

Rabu, 20 Maret 2013

Tentang mengingatkan orang lain

Seringkali kita sibuk mengingatkan orang lain tapi kita lupa menata diri sendiri, dengan mengingatkan orang lain kita merasa bahwa diri kitalah yg paling benar.

Sabtu, 16 Maret 2013

---» Voice Of The Nature «---




Modern man does not listen to the voice of nature because of his preoccupation with material gain and pleasure. His mental activities are so preoccupied with wordly pleasures that he neglects the needs of his spiritual self. This unnatural behaviour of contemporary man immediately results in a wrong world view of human life and its ultimate purpose. It is the cause of all frustation, anxiety, fear, and insecurity of our present times.

If man is cruel and wicked, lives against the laws of nature and the cosmos, his acts, words and thougths pollute the whole atmosphere. Nature abused will not provide what man requires for his living; instead, clashes, conflicts, epidemics and disaters will be in store
for him.

If man lives in accordance with the natural law, leads a righteous life, purifies the  atmosphere through the merits of his virtues and radiates his compassionate love towards other living beings, he can bring human happiness. One who really likes peace should not violate another man's freedom. It is wrong to disturb and deceive others.

You may be a very busy person, but spend at least a few minutes a day in meditation or in reading some valuable books. This habit will rẹlieve you of your worries and will develop your mind. Religion is your benefit. Therefore, it is your duty to think about your religion. Spare some time to attend gatherings held in a religious atmosphere. Even a short period spent in the company of spiritually inclined people will produce good results.

May All Be Happy!


Tatkala bangun di pagi hari....

Tatkala bangun di pagi hari, kebanyakan orang ingat membangunkan badan, jarang yg ingat membangunkan kesadaran

Perjalanan pencerahan bukan perjalanan mengumpulkan, tapi perjalanan melepaskan sampai kita telanjang sepenuhnya dari kepemilikan.

Serupa penggembala domba yg mengutamakan dombanya, kita tidak perlu tercerahkan dulu baru kemudian membimbing orang2 pulang

Keajaiban yg paling ajaib bukan apa yg terjadi di langit, tapi apa yg terjadi tatkala hati hanya berisi kasih sayang

Ada banyak jenis wewangian menyentuh, wewangian yang paling menyentuh hati adl sikap keseharian yg tdk mementingkan diri sendiri.

Kadang kala seni hidup berarti seni berhenti. Berhenti mengejar dan Anda pun pulang. Berhenti meminta2 dan Anda pun berkecukupan.

~ Gede Prama's Compassion ~

Jumat, 15 Maret 2013

Agama apa yang paling baik?


Dalai Lama diwawancara, Leonardo Boff, tokoh Teologi Pembebasan Amerika Latin.

Agama apa yang paling baik? saya  kira Dalai Lama akan menjawab: "Buddhisme Tibetan"

Dalai Lama menjawab sambil tersenyum, menatapku secara langsung, yang mengejutkanku, karena menyadari maksud jahat di balik pertanyaanku.

Beliau menjawab :
”Agama yang paling baik adalah agama yang membawamu terdekat dengan Tuhan, agama yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik”

Untuk menutupi perasaan malu, karena jawaban yang sangat bijaksana, saya bertanya: “Apa yang membuat saya menjadi lebih baik?”

Beliau menjawab:
“Apapun yang membuatmu lebih berwelas asih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, lebih memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, lebih etis. Agama yang melakukan semua itu terhadapmu adalah agama terbaik”.
”Saya tidak tertarik temanku, tentang agamamu atau apakah kamu beragama ataupun tidak. Apa yang penting untukku adalah tingkah lakumu di hadapan rekan, keluarga, pekerjaan, komunitas anda dan di hadapan dunia. Ingatlah, bahwa semesta adalah gema dari tindakan dan pikiran kita."
"Hukum aksi & reaksi tidaklah semata mata untuk ilmu alam. Akan tetapi juga hubungan antar manusia. Jika saya bertindak dengan kebaikan, saya akan menerima kebaikan. Jika saya bertindak dengan kejahatan maka saya akan mendapatkan kejahatan. "Apa yang kakek nenek ajarkan pada kita adalah murni kebenaran. Kamu akan selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan untuk orang lain. Menjadi bahagia bukanlah takdir. akan tetapi adalah masalah pilihan.”

Akhirnya beliau berkata :
"Berhati hatilah akan pikiranmu karena mereka akan menjadi perkataan.
Berhati hatilah pada kata katamu karena mereka akan menjadi tindakan.
Berhati hatilah pada tindakanmu karena mereka akan menjadi kebiasaan.
Jagalah Kebiasaanmu karena mereka akan membentuk karakter mu.
Jaga Karaktermu, karena akan membentuk nasibmu dan nasibmu adalah hidupmu"

Rabu, 13 Maret 2013

Bisakah saya senantiasa sadar?

Dalam kehidupan yg serba terburu-buru ini mungkinkah dalam setiap langkah, dalam setiap 

perkataan dan dalam setiap tindakan.... saya bisa senantiasa sadar?

Basuh lelahmu dengan kesabaran


Jika kau lelah.... basuh lelahmu dengan kesabaran, ceritakan dukamu pada ketabahan dan usap air matamu dengan harapan.

Jika kau terluka.... tetaplah tersenyum untuk semua orang di sekelilingmu karena itu tanda syukur pada penciptamu.

Selasa, 12 Maret 2013

Kotak-kotak perbedaan

Agama mengenal kotak-kotak perbedaan, spiritualitas cenderung melepas kotak-kotak tadi kemudian bergandengan tangan dalam compassion (kasih sayang). Rumus di jalan ini sederhana, banyak menyayangi, sesedikit mungkin menyakiti.

~ Gede Prama ~

Hidupmu bukan atas ketinggianmu tapi atas kedalamanmu

Makin tinggi pohon makin kencang pula angin yang harus dihadapi. Tapi kalian akan melihat pohon tetap berdiri. Kalian tahu kenapa? Karena AKAR. Hidupmu bukan atas ketinggianmu tapi atas kedalamanmu. Akarmu yang menopang hidupmu dan apapun yang akan kalian hadapi teruslah tumbuh.

Dan jadikan samadhi kalian seperti pohon, diam tapi tumbuh sekaligus diluar dan didalam.

(Gex)

Senin, 11 Maret 2013

Cerita tentang Tao




Ketika kecil saya pernah membaca salah satu buku tentang dua bersaudara yang hidup disebuah gubuk kecil dekat hutan.

Pada suatu hari mereka pergi ke hutan, namun tidak begitu lama kemudian terjadilah badai. Angin bertiup begitu kencang dan hujan deras bagai ditumpahkan ke bumi. Sang kakak segera mengajak adiknya untuk berteduh di bawah sebuah batu yang menonjol dekat jurang. Tetapi, adiknya tetap merasa ketakutan berada dalam badai.

Sang kakak menghibur adiknya, "Adikku jangan takut. Ini adalah kejadian alam biasa. Saat ini hujan deras dan angin bertiup kencang, tapi ini semua akan berlalu. Setelah itu kita bisa pulang. Tidak perlu takut.

Setelah hujan dan badai reda, kedua saudara itu memulai perjalanan pulang. Kakaknya punya kesempatan ini untuk mengajari adiknya.
"Adikku, lihatlah pohon besar yang tumbang itu. Dia berdiri kokoh, menahan terjangan angin. Ketika angin bertiup terlalu keras, maka pohon-pohon itu akan tercabut dari akarnya.
 Nah sekarang lihatlah rumput yang rendah yang kita gunakan untuk membuat sapu. Ketika angin bertiup, rumput terayun merunduk bersama angin. Ketika angin berhenti, rumput dengan mudah tegak kembali."

:: Terlalu keras, kaku, keras hati, keras kepala tidak selamanya baik. Kadang-kadang lebih baik untuk menjadi fleksibel, ramah, rendah hati dan dapat berkompromi.

Tuhan itu siapa?


Banyak orang yg hobi sekali bicara tentang Tuhan, okeylah aku anggap mereka tahu dan pernah mengalami peristiwa sehingga mampu membuat mereka yakin akan adanya Tuhan. Tapi sebuah pengalaman atau pengetahuan akan Tuhan itu tidak bisa kita bagikan kepada orang lain, setiap orang harus menjalaninya sendiri, mencarinya sendiri.

Kalau kita membagikan cerita tentang Tuhan kepada orang lain, itu tak ubahnya orang yg makan makanan basi... nggak ada faedahnya bagi pertumbuhan jiwa mereka kecuali hanya membesarkan ego. Di pasar, di jalan dan di semua tempat mereka teriak-teriak tentang Tuhan mereka, padahal mereka sama sekali tidak tahu apa2 tentang Tuhan.

Apa yang bergerak?

"Lihat, benderanya bergerak," kata seorang murid
"Goblok kamu!, yg bergerak angin," balas murid yg lain.

Murid yg pertama tdk terima, "Bendera!"
"Angin!"
"Bendera!"
"Angin!"

"Yg bergerak adalah pikiran kita," kata master Zen Huineng....

Minggu, 10 Maret 2013

Jalan kerajaan illahi

Kau selalu kebingungan dan menghabiskan waktumu dengan berbagai pertanyaan tentang tentang takdir Tuhan, tentang perbedaan ajaran dalam berbagai agama dan kepercayaan, tentang ketololan para pemuja api, tentang kebodohan para penyembah berhala, dan seterusnya. Padahal, kau sendiri jarang menilai dirimu sendiri.

Apakah kau telah benar-benar mengenal Tuhan? Lupakanlah perbedaan antar berbagai agama dan kepercayaan.
Janganlah kau sibuk memperdebatkan berbagai cara peribadatan.

Ikutilah jalan yang benar, yaitu jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi. Itulah Jalan-Kerajaan-Ilahi yang terbentang dari timur
sampai ke barat. Jalan apa pun yang kaulalui adalah bagian dari Jalan-Kerajaan-Ilahi, dan pasti akan mengantarkan dirimu kepada Kebenaran.

Jika kau tak menyadari adanya Jalan-Kerajaan-Ilahi ini, maka kau hanya akan berpura-pura mengikuti para Nabi, dan semakin jauh dari Kebenaran.

Orang-orang yang selalu memperdebatkan perbedaan ajaran antara berbagai agama dan kepercayaan, hanya akan menimbulkan pertikaian dan kerusakan di muka bumi.

Batin mereka telah dibakar dengan doktrin-doktrin fanatik, tetapi mereka akan hancur karena kepicikan pikiran mereka sendiri.



~ Dikutip dari Kitab Maarif, 1:101, karya Sheikh Bahauddin
Walad, ayahanda dari Sheikh Jalaluddin Rumi ~

Sabtu, 09 Maret 2013

Buatlah keindahan sebagai agamamu





Apakah kamu terganggu oleh banyaknya keyakinan yang diakui umat manusia?
Apakah kamu tersesat ketengah lembah pertikaian antar agama?
apakah menurutmu kebebasan dari perbuatan hina tak lebih berat dibandingkan penindasan dan penaklukan, dan kebebasan berbeda pendapat lebih aman daripada benteng persetujuan diam-diam?

Apabila demikian, maka buatlah keindahan sebagai agama mu, dan pujalah dia sebagai dewamu; karena dialah yang terlihat, mewujudkan dan menyempurnakan hasil karya Tuhan. Singkirkan saja mereka yang bermain-main dengan kesalehan dalam kepura-puraan, menyatukan keserakahan dan kesombongan; namun percayalah pada keilahian dari keindahan sehingga seketika itu yang menjadikan awal pemujamu dalam kehidupan, dan sumber bahagiamu pada kehidupan.

~ The Voice of Master ~

Jatuh cinta

Jatuh-cinta itu ternyata hanya pintu yang membuka selintas, memperlihatkan samudera luas bernama cinta sejati. Kita merasakan penyatuan dengan yang tercinta bersamaan dengan runtuhnya batas-batas diri dan ego kita.

Jatuh cinta memang melambungkan kita ke kenikmatan amat tinggi seperti juga kenikmatan orgasme. Tetapi kita hanya jatuh cinta pada seseorang dan dalam tempo terbatas. Seiring waktu, batas-batas ego kita tegak lagi seperti semula dan cinta tak lagi menggebu-gebu.

Cinta-Sejati mungkin tidak melambungkan kita pada kenikmatan tertinggi, melainkan hanya mendorong kita melakukan lompatan-lompatan ke dataran tinggi yang lebih luas, lebih langgeng, dan objek yang kita cintai pun tak terbatas hanya pada seseorang melainkan: manusia, dunia dan seisinya, kehidupan ini, dan semesta raya. Itulah yang kita rasakan saat diri meluas dan ego kita tiarap permanen.

Itulah pencapaian tertinggi spiritualitas, ketika ego tiarap, diri lenyap, dan menyatu dengan segala sesuatu .... Suatu pengalaman mistis yang sudah banyak dirasakan oleh manusia yang mampu melampaui proses panjang, di jalan sunyi, dan penuh tantangan.

Duh, itu kali ya yg dinamakan puncak pencapaian atau orgasme spiritual. Rasanya seperti apa ya? :-)

http://www.facebook.com/ranibali2011

Parasit

Jika Anda merasa tak bisa hidup tanpa kekasih Anda, tak lain Anda hanya bertindak bagaikan semacam parasit, dan yang Anda rasakan bukanlah cinta. 
Bila Anda membutuhkan orang lain agar bisa bertahan hidup, Anda adalah parasit bagi orang itu. Tidak ada pilihan dan kebebasan di dalam hubungan itu, yang ada hanyalah kebutuhan, dan itu bukan cinta. Cinta adalah latihan dalam kebebasan memilih. 

Dua orang baru dikatakan saling cinta hanya bila mereka cukup sanggup hidup tanpa yang lainnya tetapi MEMILIH untuk hidup bersama-sama.”

http://www.facebook.com/ranibali2011

Jumat, 08 Maret 2013

Pegangan

Setelah saya pikir-pikir sebenarnya kita tak perlu berpegangan pada apapun, jalani saja hidup ini seperti air mengalir, lentur dan fleksibel seperti rumput alang-alang... senantiasa menjaga kesadaran adalah hal yang paling utama. Mungkin mengutamakan satu hal adalah suatu kesalahan juga, karena hidup membutuhkan keseimbangan. Embuh aaah... bingung :(

Nikmati saja hidup ini layaknya burung pipit yang tak pernah merisaukan hari esok, karena hari ini adalah hari yang terbaik....

Membuka diri.



Apakah saya atheis?, tentu saja tidak.Apakah saya sekuler?, entahlah. Yang jelas saya selalu berusaha membuka diri pada semua kebenaran yang ada di alam semesta ini.


Membuka diri itu memang tidaklah semudah apa yg kita sangka, ada banyak pergulatan di sana. Ketika apa yg kita pegang kita anggap sebagai kebenaran mutlak maka membuka diri hanyalah tinggal nama dan slogan kosong semata.

Cerminan jiwa


Apapun satus2 saya, apapun komentar2 saya dan apapun postingan2 saya... itu semua adalah cerminan dari dalam diri saya. Kalau saya menulis tentang kebencian dan permusuhan berati hati sayapun juga seperti itu, karena apa yg ada di dalam jiwa akan terpancar keluar dalam bentuk sikap, perilaku dan perkataan maupun tulisan.

Bagaimana dengan kalian?

Sebab-sebab kemarahan dan kesedihan.

Nasehat-nasehat agar kita tidak hanyut dalam amarah atau kesedihan sudah banyak saya baca dari buku-buku, tapi semuanya itu seperti embun pagi yg kena sinar matahari. Kita harus menyelami sebab-sebab kemarahan ini lebih dalam dan tak sekadar di permukaan saja.

Ketika sebab-sebab ini diketahui, dengan mudah rasa amarah dan kesedihan ini akan berhenti dengan sendirinya.

Selasa, 05 Maret 2013

Reinkarnasi

Hampir semua orang percaya akan adanya hukum karma tapi mereka tidak mau mengakui adanya reinkarnasi. Logikanya bagaimana hukum karma bisa berjalan jika tak ada reinkarnasi?

Agama



Agama itu tak ubahnya seperti papan petunjuk arah, kalau anda hanya berpegangan pada papan petunjuk itu... anda tak akan pernah sampai pada tujuan anda.

Yang sudah tahu jalannya apakah masih perlu papan petunjuk itu?

Senin, 04 Maret 2013

Mengenal dan memahami simbol-simbol.

Kedua orang tua dan para leluhur menurunkan falsafah suatu ajaran yang diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup, tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan batin tak akan bisa diraih apabila kita menjadi seorang anak atau generasi penerus yang durhaka kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya. Ungkapan rasa berbakti, tidak hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan kepada leluhurnya. Lebih dari itu, harus ada langkah konkrit sebagaimana telah saya posting dalam thread terdahulu dengan judul “Membangun Laku Prihatin yang Pener dan Pas” dan Hubungan Leluhur dengan Kembalinya Kejayaan Nusantara. 
Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga masih dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.
Berikut ini adalah beberapa contoh menu persembahan sebagai ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). Masing-masing uborampe mempunyai ciri khas dan makna yang dalam. Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan terasa hambar dan mudah menimbulkan prasangka buruk, dianggap sesat, tak ada tuntunannya, dan syirik. Tetapi semua prasangka itu tentu datang dari hasil pemikiran yang tak cukup informasi untuk mengenal dan memahami apa makna hakekat di balik semua itu. Saya ambil contoh, misalnya para orang tua zaman dulu suka menabur bunga setaman di perempatan jalan. Tetapi lama-kelamaan tradisi itu hilang karena orang takut dituduh musrik dst. Padahal sesungguhnya orang yang menabur bunga di perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut : Ya Tuhan…berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun binatang apapun jenis dan namanya. Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Melakukannya penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Tentu saja doa yang mengandung ketulusan dan kasih sayang yang berlimpah itu, akan beresonansi dan bersinergi dengan energi alam semesta yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan Tuhan. 
Kembang atau bunga bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya. Menurut pengalaman saya pribadi, masing-masing aroma bunga, dapat menjadi ciri khas masing-masing leluhur. Desa mawa cara, negara mawa tata. Beda daerah, beda masyarakatnya, beda leluhurnya, beda pula tradisi dan tata cara penghormatannya. Bahkan aroma khas bunga serta berbagai jenis dedaunan tertentu sering menjadi penanda bau khas salah satu leluhur kita. Bila bau harum bunga tiba-tiba hadir di sekitar anda, kemungkinan besar ada salah satu leluhur anda yang hadir di dekat anda berada. 
Kembang Setaman Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, kanthil, melati,  kenanga dan mawar.
Adapun makna-makna bunga tersebut yang sarat akan makna filosofis adalah sbb: 
1. Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani (Lihat dalam thread; Serat Wedhatama). Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama). 
Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. Yakni cirahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. Jika semua umat manusia bisa melakukan hal demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya. Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha Kuasa. Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. Yaah, mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus manusia membela diriNya. Kalau memang kita percaya kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia! Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai. Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah !! Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang kotor. 
2. Kembang MLATHI (Melati), rasa melad saka njero ati. Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja. 
3. Kembang KENANGA, Keneng-a! Atau gapailah..! segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). 
4. Kembang MAWAR, Mawi-Arsa Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari tuhan apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya) sebagaimana ketulusan tuhan/kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk. Pastilah tanpa pamrih. 
4.1. Mawar Merah Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur manis gula jawa). 
4.2. Mawar Putih Mawar putih adalah perlambang dari bapa yang meretas roh kita menjadi ada. Dalam lingkup makrokosmos, Bapanya adalah Bapa langit, Ibunya adalah Ibu Bumi. Bapanya jiwa bangsa Indonesia, Ibunya adalah nusantara Ibu Pertiwi. Keduanya mencetak “pancer” atau guru sejati kita. Maka, pancer kita adalah pancerku kang ana sa ngisore langit, lan pancerku kang ana sa nduwure bumi. Sang Bapa dalam bancakan weton dilambangkan pula berupa bubur putih (santan kelapa). Lalu kedua bubur merah dan putih, disilangkan, ditumpuk, dijejer, merupakan lambang dari percampuran raga antara Bapa dan Ibu. Percampuran ragawi yang diikat oleh rasa sejati, dan jiwa yang penuh cinta kasih yang mulia, sebagai pasangan hidup yang seiring dan sejalan. Perpaduan ini diharapkan menghasilkan bibit regenerasi yang berkwalitas unggul. Dalam jagad makro, keselarasan dan keharmonisan antara bumi dan langit menjadukan keseimbangan alam yang selalu melahirkan berkah agung, berupa ketentraman, kedamaian, kebahagiaan kepada seluruh penghuninya. Melahirkan suatu negeri yang tiada musibah dan bencana, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. 
Kembang Telon Terdiri tiga macam bunga, bisa menggunakan bunga mawar putih, mawar merah, dan kanthil. Atau mawar, melati, kenanga. Atau mawar, melati, kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga), dengan harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri tunggal jaya sampurna). Sugih banda, sugih ngelmu, sugih kuasa. 
Kembang Boreh, Putihan Terdiri dari tiga macam bunga yang berwarna putih, yakni kanthil, melati, dan mawar putih. Ditambah dengan “boreh” atau parutan terdiri dua macam rempah; dlingo dan bengle. Agar segala sesuatu selalu dalam tindak tanduk, perilaku yang suci murni. Karena putih di sini melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Kembang telon bermakna pula sebagai pengingat agar supaya kita selalu eling dan waspada. 
Kembang Tujuh Rupa Berupa kembang setaman ditambah jenis bunga-bunga lainnya sampai berjumlah 7 macam. Lebih sempurna bila di antara kembang tersebut terdapat kembang wora-wari bang. Atau sejenis bunga sepatu yang wujudnya tidak mekar, tetapi bergulung/gilig memanjang (seperti gulungan bulat memanjang berwarna merah). Ciri lainya jika pangkal bunga dihisap akan terasa segar manis. Kembang tujuh rupa, dimaksudkan supaya apa yang sedang menjadi tujuan hidupnya dapat terkabul dan terlaksana. Tujuh (Jawa; pitu) bermakna sebuah harapan untuk mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari tuhan yang Mahakuasa. Rujak Degan Atau rujak kelapa muda. Degan supaya hatinya legan, legowo. Seger sumringah, segar bugar dengan hati yang selalu sumeleh, lega lila lan legawa. Hatinya selalu berserah diri pada tuhan, selalu sabar, dan tulus. 
Dlingo
Bengle
Dlingo dan Bengle Keduanya termasuk rempah-rempah, atau empon-empon. Bengle bentuk luarnya mirip jahe. Tetapi baunya sangat menyengat dan bisa membuat puisng. Sedangkan dalamnya berwarna kuning muda. Karena baunya yangmblenger sehingga di Indonesia jenis rempah ini tidak digunakan sebagai bumbu masak. Sebaliknya di negeri Thailand rempah ini termasuk sebagai bumbu masak utama. Entah apa sebabnya, bengle dan dlingo merupakan rempah yang sangat tidak disukai oleh bangsa lelembut. Sehingga masyarakat Jawa sering memanfaatkannya sebagai sarana penolak bala atau gangguan berbagai makhluk halus. 
Anda dapat membuktikannya secara sederhana,bila ada orang gila yang dicurigai karena ketempelan mahluk halus, atau jika ada seseorang sedang kesurupan, coba saja anda ambil bengle, atau parutan bengle, lalu oleskan di bagian tubuhnya mana saja, terutama di bagian tengkuk. Anda akan melihat sendiri bagaimana reaksinya. Biasanya ia akan ketakutan atau berteriak histeris lalu sembuh dari kesurupan. Dalam tradisi Jawa, jika ada orang meninggal dunia biasanya disiapkan parutan bengle dicampur dengan sedikit air digunakan sebagai pengoles bagian belakang telinga. Gunanya untuk menangkal sawan. Bahkan pengalaman saya pribadi, setiap hidung ini mencium bau bengle, menandakan ada seseorang yang berada di dekat saya waktu itu, yang akan meninggal dunia. Dlingo bengle, walaupun keduanya sangat berbeda bentuk dan rupanya, tetapi baunya seolah matching, sangat serasi dan sekilas baunya hampir sama. Dlingo dan bengle bermanfaat pula sebagai sarana memasang pagar gaib di lingkungan rumah tinggal. Dengan cara ; dlingo dan bengle ditusuk bersama seperti sate, lalu di tanam di setiap sudut pekarangan atau rumah. Begitulah pelajaran berharga yang kini sering dianggap remeh bagi yang merasa diri telah suci dan kaya pengetahuan. Di balik semua itu sungguh memuat nilai adiluhung sebagai “pusaka” warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini sebagai wujud sikapnya yang bijaksana dalam memahami jagad raya dan segala isinya. 
Doa tak hanya diucap dari mulut. Tetapi juga diwujudkan dalam berbagai simbol dan lambang supaya hakekat pepeling/ajaran yang ada di dalamnya mudah diingat-ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ajaran adiluhung yang di dalamnya penuh arti, sarat dengan filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris tentang moralitas dan spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad nusantara, serta jagad kecil yang ada dalam diri kita pribadi.


~ Cakrawala Hati ~

http://www.facebook.com/tunjung.biru1?fref=ts

Ketika Anda sudah berada di perahu bajak laut, jadilah seorang bajak laut

Saya pernah bertemu dengan seorang pemuda yang ingin menjadi seorang pengacara sejak ia lulus SMA. Ternyata, ia tidak mampu lulus ujian saringan masuk, jadi akhirnya dia mengambil ilmu kepustakaan sebagai gantinya.
Pada awalnya dia sangat kecewa. Setelah pemuda tersebut lulus, ia pergi ke Perancis untuk melakukan penelitian tentang sistem perpustakaan Perancis. Akhirnya, ia menerima gelar Ph.D. dalam ilmu kepustakaan.

Kemudian ia diundang kembali ke Taiwan karena hanya ada sedikit yang bergelar Ph.D. dalam ilmu kepustakaan di sana, dan mereka membutuhkan seseorang untuk perpustakaan pusat.

Pemuda tersebut datang kepada saya untuk meminta saran, dan saya mengutip sebuah pepatah Cina kepadanya: "Ketika Anda sudah berada di perahu bajak laut, jadi lah seorang bajak laut"
Saya menyuruhnya tetap berkecimpung dengan ilmu kepustakaan. Dia kembali dari Perancis dan berterima kasih kepada saya. Hal ini berdampak cukup baik baginya, dan mungkin lebih baik daripada hanya jika menjadi seorang pengacara.


Dalam situasi apa pun, berusaha lah agar diri Anda untuk menjadi yang terbaik dalam situasi itu, bukan tenggelam dalam ilusi yang Anda takuti atau dambakan. Ketika sesuatu hal berubah, berubah bersama mereka. Dengan sikap ini, hidup Anda harus berjalan lancar, serta kejengkelan dan masalah akan menjadi sedikit.


~ Kuliah umum yang diberikan Master Sheng-yen di Universitas Washington, St. Louis, Missouri pada tanggal 17 April, 1990 ~