Cerita tentang Tao
Ketika kecil saya pernah membaca salah satu buku tentang dua bersaudara yang hidup disebuah gubuk kecil dekat hutan.
Pada suatu hari mereka pergi ke hutan, namun tidak begitu lama kemudian
terjadilah badai. Angin bertiup begitu kencang dan hujan deras bagai
ditumpahkan ke bumi. Sang kakak segera mengajak adiknya untuk berteduh
di bawah sebuah batu yang menonjol dekat jurang. Tetapi, adiknya tetap
merasa ketakutan berada dalam badai.
Sang kakak menghibur
adiknya, "Adikku jangan takut. Ini adalah kejadian alam biasa. Saat ini
hujan deras dan angin bertiup kencang, tapi ini semua akan berlalu.
Setelah itu kita bisa pulang. Tidak perlu takut.
Setelah hujan dan badai reda, kedua saudara itu memulai perjalanan
pulang. Kakaknya punya kesempatan ini untuk mengajari adiknya.
"Adikku, lihatlah pohon besar yang tumbang itu. Dia berdiri kokoh,
menahan terjangan angin. Ketika angin bertiup terlalu keras, maka
pohon-pohon itu akan tercabut dari akarnya.
Nah sekarang lihatlah rumput
yang rendah yang kita gunakan untuk membuat sapu. Ketika angin bertiup,
rumput terayun merunduk bersama angin. Ketika angin berhenti, rumput
dengan mudah tegak kembali."
:: Terlalu keras, kaku, keras
hati, keras kepala tidak selamanya baik. Kadang-kadang lebih baik untuk
menjadi fleksibel, ramah, rendah hati dan dapat berkompromi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar